[Part 1] Cabin Crew’s Story: Proud of Being Part of AirAsia Allstars

Proud of being part of AirAsia Allstars🙂

“Segala sesuatu yang saya pikirkan dengan segenap perhatian, energi dan konsentrasi pikiran, baik hal yang positif maupun negatif akan datang kedalam kehidupan saya.” – The Law Of Attraction

Sepenggal kutipan diatas saya temukan dari sebuah buku bersampul ungu pada saat saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA, tepat setelah membaca itu, saya memulai mengaplikasikannya. Dan ya, sedikit atau banyak segala hal yang terjadi di kehidupan saya adalah buah dari yang saya pikirkan.

Menjadi satu orang yang beruntung diantara puluhan, ratusan, bahkan ribuan pemimpi adalah anugerah bagi saya. Betapa tidak, dengan jalan yang tidak mudah dan dengan waktu yang tidak singkat pula saya menjadi seperti sekarang ini.

Setelah genap berumur 19 tahun pada tanggal 25 Februari 2011, saya mulai mempersiapkan banyak hal untuk melanjutkan mimpi saya yang sempat tertunda. Karena kegagalan yang sempat berulang kali saya alami, saya mengalami krisis percaya diri. Empat kali sudah cukup membuat saya menghakimi diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan seperti “Aku kurang apa ?” atau “Mungkinkah ini bukan jalanku?” dan lain-lain yang sejenis.

Awal bulan Maret 2011 saya berencana untuk melamar ke perusahaan swasta, tempat tante saya bekerja. Tante saya itu, setiap harinya berulang-ulang kali menanyakan kabar dan mengingatkan perihal apa saja yang mesti disiapkan. Saya menuruti perintahnya dan mempersiapkan segala sesuatunya seperti :

1. Membuat SKCK dari Polsek ke Polres
2. Surat keterangan belum menikah dari RT/RW sampai ke desa, kecamatan dan berakhir di KUA
3. Surat keterangan berbadan sehat, medical check-up di RS.Dustira
4. Surat keterangan tidak berkacamata
5. Legalisir ijazah SD-SMA
6. Membuat CV
7. Mengumpulkan sertifikat-sertifikat yang relevan
8. Persiapan lain berupa mental, fisik, menjaga pola makan dan tidur

Saya banyak merahasiakan rencana saya untuk melanjutkan mimpi saya kali ini pada teman-teman, keluarga, saudara, dan kolega yang lainnya. Saya takut kejadian dulu terulang, mereka yang menyimpan banyak harapan dan panjatan doa terhadap saya harus ikut merasakan pahitnya kegagalan saya yang berulang-ulang kali itu. Persiapan saya telah sarat, amplop coklat saya telah penuh dengan persyaratan. Kemeja dan rok untuk menjalani walk in interview sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Tanggal 14 Maret 2011 rencananya saya akan berangkat ke Jakarta Pusat, nomor telepon travel sudah saya kantongi hasil mencari di Google.

Inilah poster lowongan yang kulihat di akun Facebook AirAsia waktu itu

Tapi tepat tanggal 1 Maret 2011, bermula dari keisengan saya membuka Facebook, di home saya melihat gambar di atas. Entah sejak kapan saya berteman dengan akun AirAsia, mungkin dulu saat mencari tahu banyak hal tentang dunia flight attendant dan airlines. Saya pun membaca poster yang dipajang oleh AirAsia itu. BANDUNG? Hati saya tergugah, walk in interview-nya diadakan di Bandung?

Bersama mamah, di pagi buta saya bergegas untuk pergi ke tempat yang dituliskan di atas, dengan menggunakan motor kesayangan lengkap dengan sarung tangan, helm, celana jeans, kaos, jaket tebal dan tas jinjing yang isinya sarat akan perlengkapan seperti make-up, cempolan rambut, kemeja beserta roknya.

Saya berniat untuk mengganti pakaian saya dan bermake-up disana saja, awalnya saya hanya iseng-iseng, untuk melatih interview nanti di perusahaan tante saya agar tak tampil memalukan, gugup, tegang dan lain sebagainya. Lagipula tempatnya diadakan di Bandung, kenapa tidak?

Ada banyak peserta disana, kurang lebih 300-400 orang. Banyak yang berpenampilan menarik, tubuh tinggi, kulit putih, dan rambut indah tergerai. Sementara saya yang dengan gaya rambut dicepol (karena kebiasaan mengikuti test di “perusahaan milik negeri” dulu), rok menutupi lutut, kemeja ungu seadanya tanpa memperlihatkan belahan dada sedikitpun, serta make-up yang lebih cocok saya sebut saat itu adalah topeng. Mendadak ada rasa minder dalam diri saya. Bagaimana bisa saya berderet diantara mereka? Bagaimana bisa saya bersaing dengan mereka yang sudah seperti superstar sedangkan saya ini fans-nya?

TUHAN! Saya mau pulang…

Kalau saja saat itu mamah tidak menemani saya, mungkin saya sudah bergegas pergi, menyusut make-up, membuka cepolan rambut, dan pulang dengan kepala menunduk.

“Jangan kalah sebelum berperang” begitu kata mamah, “Cangkang mereka terbuat dari emas, tapi isinya siapa yang tahu? Biar saja dibilang buah kesemek tapi buahnya manis.”

Kalimat itu, sebetulnya sangat membangun, tapi mamah bilang “buah kesemek” ya Tuhan, setega itu.. hehehe..

Pada intinya, kekuatan dari mamah tiba-tiba mengalir. Saya mengikuti test pertama. nomor urut saya saat itu “02” . Iya ! Nomor 02! Karena apa? Karena saya datang terlalu pagi, saat panitia pun belum mempersiapkan apa-apa.

Bukan karena saya yang terlalu rajin atau semangat. Saya hanya ingin menyaksikan seberapa konsisten-nya sebuah perusahaan. Penilaian saya sederhana, mereka konsisten dengan jadwal yang mereka buat. Sebab, di internet saat itu AirAsia mengumumkan bahwa rekrutmen akan dilaksanakan mulai pukul 07.30 hingga 08.00 pagi, lantas saya datang pukul 06.30. Dan ya benar sekali, mereka mulai mendata kami dan membariskan kami tepat pukul 07.30!

Amazing. hal itu membuat saya jatuh cinta dengan perusahaan ini, beda dengan perusahaan sebelumnya, ketika sebanyak 4x saya mengikutinya, mereka teramat sangat ngaret, tidak bisa lepas dari budaya mengulur-ngulur waktu.

Berikut ini adalah rangkaian test yang saya ikuti pada waktu itu:

1. Pengukuran tinggi dan berat badan serta pengumpulan dokumen, kurang satu dokumen saja, dianggap gugur, ada banyak yang gugur pada tahap ini. Alhamdulillah, berat badan dan tinggi badan saya saat itu terbilang ideal.

2. Nomor urut saya dipanggil oleh seseorang yang baru saya sadari saat ini dia adalah FAE saya, bernama Mba Made, beliau terlihat elegan, ramah, dan hangat.

“Number 2, it’s your turn!”

*DEG* ada yang berdesir, ada bunyi aliran deras di nadi-nadi saya. Saya tahu itu berlebihan, tapi it’s common to everybody, rite?

Begitu membuka pintu, ada seorang perempuan berambut keriting dan berkulit hitam manis mirip-mirip Oprah (yang kemudian saya sadari itu adalah Chief Manager Flight Attendant bernama Mba Mira) serta lelaki dengan kumis tebal (yang akhirnya saya kenal sebagai Chief Pilot bernama Capt. Pujiono).

Mereka berdua tersenyum dan menyambut saya dengan hangat. Saya dipersilakan berjalan mengikuti tanda yang mereka buat, berjalan ke depan, ke belakang, menengok ke samping kiri, ke samping kanan, dan menyuruh untuk membuka cepolan rambut saya.

“Would you please make your hair fall down?” Perlahan saya buka jepitan rambut saya.

“Oh God ! Beautiful hair.” ucap Mba Mira.

“Thank you, I’m flattered.”

Kemudian Mba Mira memberi pertanyaan bertubi-tubi. Yang saya ingat di antaranya, “Why do you choose AirAsia to make your dream comes true?” lalu “What do you know about this job?” dan beberapa pertanyaan lainnya seputar keluarga juga hobi.

Ada satu hal yang membuat saya mengeluarkan air mata pada saat itu. Saat Capt. Pujiono bertanya “If you become an AirAsia’s Flight Attendant, what is the first thing that you want to do? And what is your biggest dream?”

Tiba-tiba saya berkaca-kaca, perlahan saya menjawab walaupun kerongkongan saya cukup sesak dengan air mata “I want to save my money to pay the Hajj cost for my parents and I wanna go around the world with my parents and my brothers.”

~ to be continued ~

FP’s Note: Are you a flight attendant? Have so many inspiring stories? Why don’t you share them with the wannabes here? Send your story and photos to forumpramugari@gmail.com with subject: Cabin Crew’s Story. Thank you for sharing🙂

Tagged: , ,

7 thoughts on “[Part 1] Cabin Crew’s Story: Proud of Being Part of AirAsia Allstars

  1. Ririen May 7, 2012 at 7:35 AM Reply

    Nice story….cerita yg hampir sm yg saya alami…..Alhamdulilah..sy skrg mengikuti Pramugari khusus utk Haji di Garuda Indonesia….;)

    • Setia Dewi September 20, 2012 at 9:14 AM Reply

      mau tanyaaa, klo jdi pramugari haji di Garuda harus yang udh berpengalaman yah?

  2. dWi (@Ki_seKi) May 7, 2012 at 10:03 AM Reply

    wah..can’t hardly wait to read next posting🙂

  3. mey May 13, 2012 at 12:48 PM Reply

    mbak kalo tinggi cuma 150an kira2 bisa ngak yah jadi pramugari ?

  4. kyumi May 14, 2012 at 8:22 PM Reply

    ,, congrats,, feeling happy too😀,, q jg pgn jd pramugari ,, n moga2,, it will be real,, amin😀,, wait next story,,impatient,,

  5. @renz_praditya May 21, 2012 at 2:25 PM Reply

    Adekkku sayang…. Aku terharu baca ceritamu…. Ditunggu part II nya yaaah .. We very Proud to be an allstars rite?🙂

  6. Parlindungan Marpaung May 29, 2012 at 9:38 PM Reply

    wow, memang secara potensi dan kompetensi sdh terlihat dr “performance”, tidak heran ms. Mira tertarik dgn kesan pertama,. Dan di uji melalui interview. Jadi, tidak salah Air Asia memilih Ms. Ririn utk menjadi pramugari. Hebat dan selamat. Terus maju dan terbang bersama Air Asia.

    regards,
    Parlindungan Marpaung
    penumpang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: