[Berbagi Cerita] What a First Experience!

 

Rizki ~ Banda Aceh berbagi cerita untuk Forum Pramugari

Rekrutmen Flight Attendant pertama (dan satu-satunya sejauh ini) yang pernah aku ikutin itu rekrutmennya Cathay Pacific, bulan Mei tahun lalu. Awalnya aku cuma iseng ngirimin resume, karena kakakku bilang, “Coba kirim aja, kamu belum tentu dipanggil buat interview kok.”

Ternyata aku dapet dipanggil.

Aku tinggal di Banda Aceh bersama keluarga. Waktu itu umurku baru 18 tahun. Ibuku sempat nggak izinin aku berangkat ke Jakarta buat interview, tapi akhirnya beliau ngasih restu juga, karena tahu bahwa menjadi pramugari itu cita-cita aku dari kecil.

Akhirnya aku berangkat ke Jakarta sendirian dan memutuskan untuk tinggal di sebuah kost yang nggak jauh dari Crowne Plaza Hotel, tempat interview Cathay Pacific berlangsung. Paginya, aku bersiap-siap untuk berangkat interview dengan menggunakan rok hitam selutut (yang susah banget didapat di Banda Aceh!) dan blus berwarna putih.

Sesampainya di Crowne, aku merasa sangat nervous karena di sana sudah ramai oleh kandidat-kandidat lain yang juga diundang untuk interview. Semuanya kelihatan keren dan berpenampilan rapi. Ada yang ngobrol dengan sesama kandidat, ada juga yang hanya diam saja memperhatikan suasana.

Nggak lama kemudian, semua kandidat diminta untuk mengantri. Kami diberi formulir untuk diisi, setelah itu digiring untuk memasuki ruangan dan menyaksikan presentasi tentang kehidupan para pramugara dan pramugari Cathay Pacific.

Setelah menyaksikan presentasi, tes pertama pun dimulai, yaitu arm reach test. Semua kandidat, termasuk aku, diminta untuk melepas sepatu dan mengukur arm reach. Ada garis yang sudah ditempel di dinding dan kita diminta untuk menyentuh garis itu. Hampir semua kandidat lolos di tahap ini, tapi ada juga 1-2 orang yang gugur karena tangan mereka tidak bisa mencapai garis yang sudah ditentukan.

Tes berikutnya adalah Group Discussion 1 di mana setiap grupnya terdiri dari 12 orang kandidat. Tiap kelompok didampingi seorang penilai, lalu kami pun diarahkan untuk masuk ke sebuah ruangan. Dari 12 orang itu dibagi lagi ke dalam 3 kelompok kecil. Tiap kelompok diberikan topik yang berbeda untuk dibahas dan waktu untuk membahas itu hanya 3 menit saja. Aku gugup banget, apalagi setelah mendengar bahasan dari kandidat-kandidat lainnya dalam Bahasa Inggris yang sangat lancar. Ketika waktu pembahasan selesai dan masing-masing kelompok diminta untuk menerangkan hasil diskusinya, aku hanya bisa diam.

Aku diam karena nggak dapat kesempatan bicara pada waktu diskusi, selain itu aku merasa nggak sopan kalau harus memotong pembicaraan orang lain. Jadi aku hanya diam dan memperhatikan kandidat lain yang dengan semangatnya berbicara.

Setelah diskusi ditutup, penilai meminta waktu sebentar untuk menulis hasil pengamatan mereka. Dalam hati, aku sudah yakin bahwa aku nggak mungkin lolos tahap ini. Nggak lama kemudian, penilai pun memanggil nama kami satu per satu dan memberikan kami kartu hasil penilaian. Beberapa kandidat yang sudah menerima kartu, berjalan meninggalkan ruangan. Saat aku menerima kartuku, aku sudah akan berjalan keluar, tapi sang penilai menahan langkahku.

Kemudian penilai itu membagikan kartu kepada empat orang yang lainnya. Kami berlima lolos tahap pertama. Sumpah, aku nggak nyangka bisa lolos dalam tahap itu mengingat aku nggak banyak bicara dalam diskusi.

Kami diberi waktu untuk istirahat sebelum memasuki tahapan seleksi berikutnya. Pada Group Discussion 2, kami bertemu dengan kandidat-kandidat lain yang juga lolos di tahap pertama. Sama seperti sebelumnya, kami dibagi lagi ke dalam kelompok yang lebih kecil untuk diskusi. Kali ini bukan 3 grup, tapi hanya 2 grup, sehingga setiap grup terdiri dari 6 orang.

Pada tahap ini, kami diberikan sebuah topik. Satu grup diminta untuk menyetujui sebuah pendapat, sementara grup yang lain diminta untuk tidak menyetujuinya. Ini adalah sebuah debat dan tiap grup dipersilakan untuk berdiskusi dan memberikan pendapat mereka untuk mendukung pernyataan setuju atau tidak setuju tersebut.

Sedihnya, ketika berdiskusi tidak ada satupun teman sekelompokku yang memperhatikan pendapatku. Sepertinya apa yang aku katakana tidak mereka dengar. Mungkin karena aku terlihat masih sangat muda atau mereka memang mau mendominasi diskusi. Pada akhirnya, nggak satu orangpun dari kelompokku yang lolos tahap itu.

Aku sempat sedih. Rasanya perjalananku dari Banda Aceh ke Jakarta nggak menghasilkan apa-apa. Tapi aku bersyukur karena keluarga dan teman-temanku terus memberi semangat. Aku juga bersyukur karena setidaknya aku lolos tahap diskusi pertama. What a first experience!

*FP’s Note: Cerita Rizki dikirim dalam rangka FP Giveaway #1. Cara Rizki bercerita yang detil dan emosi yang dibangun dalam kalimat-kalimatnya menjadi alasan FP memilihnya sebagai salah satu pemenang. Terima kasih sudah berbagi cerita di forum ini Rizki. Semoga sukses di rekrutmen berikutnya😀

Tagged: , , , , , ,

8 thoughts on “[Berbagi Cerita] What a First Experience!

  1. Dee Tan May 31, 2012 at 5:45 PM Reply

    Keep your spirit high! Your struggle will someday fruitful that you expect or even beyond your expectations🙂

  2. RICKY May 31, 2012 at 6:18 PM Reply

    Mungkin di Grup Discussion 2 ini dinilai kekompakan dalam sebuah team yah… hmmm

  3. izasyair June 1, 2012 at 8:07 AM Reply

    perjuangannya gak sia-sia yaa =)

  4. vladi June 2, 2012 at 1:44 PM Reply

    emangnya biasanya yang ditanya atau topik yang diberikan tentang apa yaah?

  5. fajrah June 4, 2012 at 7:31 PM Reply

    Dear FP and Rizki…

    thx for sharing…ada yang mau aku tanya, kl “arm reach” itu boleh sambil jinjit or telapak kaki tetap pada posisi normal orang berdiri??

  6. NFirdausy Rizki Cahyatama June 11, 2012 at 3:16 PM Reply

    kamis ada psikotes disalah satu hotel Bandung, belum ada gambaran gimana soal tets untuk calon pramugari😦

  7. NFirdausy Rizki Cahyatama June 11, 2012 at 3:18 PM Reply

    terkadang untuk mencapai kesuksesan kita harus melewati kegagalan dulu, karna dari kegagalan kita mempunyai sebuah pengalaman🙂

  8. IgG-CPA June 23, 2012 at 3:18 PM Reply

    Dear Rizky,
    jangan kecil hati karena umur kamu masih kecil,keep confidence! thats the key….pada saat interview Cathay aku pun paling kecil pada saat itu….sampai sekarang pun aku salah satu crew paling muda dari seluruh Indonesian Crew…ketika mengikuti interview aku baru 19 tahun….tapi aku confident aja dan keep optimis selama interview…..then i got it…..untuk wannabe2 lainnya yg masih kecil juga jangan putus asa,push ur best to the limit! thats the key ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: