[Part 4] Cabin Crew’s Story: Proud of Being Part of AirAsia Allstars

Ririn after flight from Bangkok

Seminggu berlalu setelah test selama dua hari berturut-turut itu. Saya masih menunggu hasil Psikotest, TOEFL dan TOEIC. Harus saya akui bahwa saat itu tangan saya seolah tak bisa lepas dari handphone. Ke mana pun saya pergi, saya menggenggamnya. Hari ke-8 masih belum ada titik cerah. Saya mulai gusar karena sebentar lagi tanggal 14 Maret 2011, di hari itu saya akan pergi melamar ke perusahaan tempat tante saya bernaung. Tapi entah kenapa saya masih penasaran dengan hasil tes yang sudah saya jalani sedemikian rumit itu.

Dengan penuh pertimbangan dan pemikiran yang cukup panjang akhirnya saya memutuskan untuk menunda melamar ke perusahaan tempat tante saya itu. tepat hari ke 9 setelah test itu berlalu, ada sebuah nomor asing muncul di layar handphone saya +621*****

“Assalamualaikum. Selamat siang…” begitu kalimat pembuka saya.

“Yes, good afternoon, am I speaking with Miss Ririn Prantikawanti ?”

Hati saya bergetar, terasa seperti ada yang berdesir di dalamnya.

“Yes, this is Ririn speaking. May I help you ?”

“Congratulation Miss Ririn, you can proceed the next section of the test. The final test is Medical Check Up!”

ALHAMDULILLAH.

Saya teriak sejadi-jadinya. Mamah dan bapa menangis terharu. Mereka memeluk saya erat-erat. Kami bergegas menyentuhkan kening kami ke lantai dan berbisik “Terima kasih, Allah”

Mr. Alimudin, adalah yang selalu setia memberi kabar terhadap kami, para kandidat. Beliau semacam pengantar kabar. Dia juga memberitahukan alamat Balai Kesehatan Penerbangan, di mana saya dijadwalkan untuk menjalani medical check up minggu depan.

Balai Kesehatan Penerbangan, Jalan Kotabaru Bandar Kemayoran, Jakarta Pusat.
Saya menggenggam dan melihat kertas hasil tulisan seminggu yang lalu saat ditelpon Mr. Alimudin. Saya duduk di bangku bis paling depan dan di samping saya ada mamah yang sedang tertidur pulas. Ehm. kebiasaan mamah, meski hanya semenit nempel di kendaraan, entah itu motor, mobil, atau kereta pasti langsung tertidur🙂

Saya melihat mamah kelelahan, cantiknya mamah masih belum hilang dari hari ke hari. Mamah masih setia menemani saya tes, bahkan hingga tahap akhir ini. Sementara bapa menunggu dengan doanya yang mengalir deras melalui sms atau telepon setiap saat.

“Sudah sampai mana sayang?” atau “Sudah makan sayang?” begitulah isi smsnya selalu.
Saat itu pukul 10 pagi, hari Minggu. Saya berniat mencari penginapan di daerah dekat Balai Kesehatan Penerbangan. Dengan bantuan suami teh Ade (tetangga baik saya), akhirnya kami menemukan sebuah hotel yang letaknya tidak jauh.

Kami naik Bajaj ke tempat tes, ongkosnya hanya Rp. 5000. Jarak yang ditempuh pun hanya memakan waktu 5-10 menit ke Gedung Balai Kesehatan Penerbangan. Berhubung tes kesehatan dimulai hari Senin pukul 6.00 pagi, saya tidak mungkin mendadak pergi dari Bandung. Tentu saya harus menghindari macet dan berbagai faktor lain yang bisa menghambat, sehingga kami harus bersegera ke sana.

Pagi-pagi sekali saya keluar, sudah ada banyak taksi yang berjejer didepan hotel, Kami memutuskan untuk naik bajaj karena beberapa alasan. Pertama, saya sangat tertarik karena belum pernah naik bajaj. Ke-dua, tentu saja karena pengiritan🙂

Sesampainya di depan gedung Balai Kesehatan Penerbangan, saya melihat ada banyak mobil mewah terparkir di sana. Satu dua orang di antara banyak orang yang saya lihat di sana adalah teman baru yang saya temui ketika tes di Bandung. Dengan cueknya saya turun dari bajaj, di hadapan mereka. Beragam reaksi bisa saya lihat di wajah mereka, sebagian di antaranya menatap saya nyinyir.

Saya masuk, menulis nama di sebuah buku absen, memberi pas foto, dan dokumen lain yang diperlukan.
 Setelah itu saya diberi lembaran kertasbertuliskan daftar ruangan yang harus kita masuki untuk pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaannya meliputi mata, gigi, telinga, jantung, urine, struktur tubuh / riwayat kesehatan, dan darah. Ada banyak pramugari dan pramugara di sana, ada juga pilot dan siswa-siswi STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Mereka sedang melakukan check up kesehatan tahunan.

Satu per satu saya masuki ruangan-ruangan yang tertera di lembaran itu. Untunglah semua tesnya bisa saya jalani dengan lancar, Banyak teman saya yang harus mengulang tes, khususnya ketika menjalani pemeriksaan di ruangan gigi dan mata. Alhamdulillah saya lancar dan selesai tapi saya masih harus menunggu (lagi) hasilnya yang akan diberitahu beberapa hari kemudian.

Hari ke-9 setelah Medical Check Up, saat itu saya sedang dilanda PMS (pre menstrual syndrome) di hari pertama. Perut terasa melilit, seperti ditusuk-tusuk, yang saya lakukan hanya tidur, menggigit-gigit selimut untuk melampiaskan sakit.
“+621….. calling” itu muncul dilayar handphone saya. mendadak saya lupa rasa sakit diperut saya, “Miss Ririn Prantikawanti, congratulation! You’re great! You’ve finished the test, you can come to the office on Monday to talk about the contract….”

Ya Tuhan, kejutan apa ini ? Mamah dan bapa sedang keluar rumah, sedangkan aa tengah bekerja. Pada siapa saya harus teriak membagi perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ini? Saya pun lompat-lompat kegirangan sendiri di rumah. Saat itu sakit di perut saya hilang seketika. Saya tak sabar menunggu mamah, bapa dan aa pulang. Tak berapa lama dari pemberitahuan kabar gembira, ada suara motor yang datang mendekat. Saya membuka pintu dan segera berlari untuk memeluk mamah dan bapa yang baru saja pulang. Saya peluk mereka seeratnya dan teriak “RIRIN LOLOS !!!!!!”

Betapa senangnya kedua orang tua saya saat itu. Mamah dan bapa sampai mengeluarkan air mata saking terharunya. Mereka mengelus-ngelus rambut saya dan mencium saya. Kami bertiga pun menyentuhkan kening kami ke lantai untuk mengucap syukur, “Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah….”

~ The End ~

FP’s Note: Are you a flight attendant? Have so many inspiring stories? Why don’t you share them with the wannabes here? Send your story and photos to forumpramugari@gmail.com with subject: Cabin Crew’s Story. Thank you for sharing

Tagged: , , , ,

5 thoughts on “[Part 4] Cabin Crew’s Story: Proud of Being Part of AirAsia Allstars

  1. Anggi June 18, 2012 at 9:35 AM Reply

    Kak Ririn nama FB nya apa? boleh tau gak?

  2. Dee Tan June 20, 2012 at 6:30 PM Reply

    Congratulation! But somehow I still believe in fate factor! No matter how hard we try, but if God never wishes, then it would just be a very vain, but if God had wished, although very hard the obstacles that we mush encounter, but for sure we will get it!

  3. Rani June 22, 2012 at 10:33 AM Reply

    sist ririn~ bln juli ini ada recruitment air asia ya? d kota mana? bwt pramugari aja? atw sm pramugara jg? sist basisnya d mn? thank’s before ya~😀

  4. Nur Endah June 27, 2012 at 11:44 PM Reply

    saya baca dari awal, rumit bgt tes nya.. but I’m very proud to u :*
    perjuangan yang melelahkan tapi gak sia-sia .
    selalu berdoa dan berusaha itu kuncinya . dibantu doa kedua orangtua juga
    semoga saya juga bisa jadi FA aamien🙂
    sukses terus buat kita semuaa
    Aamien !

  5. Irma September 14, 2012 at 12:22 PM Reply

    Jd termotivasi,,,:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: