[Part 1] Cabin Crew’s Story: Anak Penjual Nasi Uduk Jadi Pramugara

IMG_20121203_220448

Hi, my name is Ferza🙂

Malam itu selepas shalat Isya saya hanya bersantai di rumah. Saya sedang browsing internet lewat handphone dan tanpa bermaksud mencari dengan sengaja, saya melihat info bahwa besok ada walk-in interview flight attendant dari maskapai swasta terbesar di Indonesia.

Sebentar saya lihat berkas persyaratan yang dibutuhkan. Ternyata semua berkas persyaratan yang diminta untuk lowongan itu bisa saya usahakan malam ini juga untuk dikerjakan. Sebab persyaratannya hanya fotokopi beberapa dokumen penting dan surat keterangan berbadan sehat dari dokter. Untuk pas foto, saya pakai stok lama yang sudah agak berdebu.

Jam sembilan malam, semua berkas pendaftaran sudah siap dan saya masukkan ke dalam sebuah amplop cokelat besar.

“Bismillah,” kata saya sambil merapikan amplop.

Setelah itu saya membantu Ibu yang sedang menyiapkan bahan-bahan membuat nasi uduk yang akan dijual besok. Saya juga memberi tahu sekaligus meminta restu bahwa besok pagi, saya akan mengikuti tes flight attendant (pramugara). Beliau kaget saat mendengarnya. Dia tidak menduga saya akan mengikuti tes seleksi pekerjaan yang menurutnya terlalu ‘high’ untuk ukuran keluarga tukang nasi uduk seperti kami.

Bukan Ferza namanya kalau tidak bisa meyakinkan Ibu. Saya pun memberi tahu beliau bahwa ini saya lakukan untuk mengukur kualitas diri saja. Kalau lulus ya syukur, kalau nggak lulus juga tidak apa-apa. Beliau pun merestui.

Sekitar jam sebelas malam saya baru selesai membantu Ibu menyiapkan bahan-bahan nasi uduk untuk besok pagi. Saya bergegas tidur. Perasaan deg-degan mulai muncul. Tapi ya sudahlah….

“Udah semua, Mah?” selesai shalat subuh saya bertanya kepada Ibu apakah semua nasi uduknya sudah siap. Ya, ini memang rutinitas saya baik di hari libur maupun sebeleum berangkat kerja ke kantor di kawasan Sudirman. Mengantar Ibu ke sekolah dasar tempat adik saya belajar adalah bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Tanpa kecuali hari ini, hari di mana saya akan mengikuti tes flight attendant, saya pun tetap mengantar beliau.

Saya mengantar Ibu dengan pakaian sangat rapi; kemeja, dasi, celana hitam, dan tak lupa sepatu pantovel. Tepat jam setengah enam saya mengantar beliau ke SD adik saya. Sekolahnya tidak jauh. Saya pun menyempatkan diri untuk sarapan nasi uduk buatan Ibu di tempat dia berjualan. Lagi-lagi Ibu menanyakan keyakinan saya dalam mengikuti tes ini. Namun niat saya sudah pasti tetap ikut tes. Saya pun pamit ke beliau. Beliau adalah perantara Allah. Saya percaya, restu yang beliau keluarkan insya Allah juga restu Allah.

p20130121-073509

Restu Ibu, insya Allah, restu Allah juga…

Berangkat dengan sepeda motor yang lima bulan lagi lunas, adrenalin saya terasa menderu. Saya tidak sabar untuk segera mengikuti tes. Akhirnya, saya pun sampai di kantor maskapai swasta terbesar itu dan…………………di sana sudah RAMAI!!!

Day 1: Performance Test

Kira-kira ada tiga ratus orang pria yang ikut tes ini. Semuanya tampak siap. Tatapan mata mereka adalah tatapan optimis dan saya sadar akan hal itu. Masing-masing dari kami diukur tinggi dan berat badannya. Setelah itu kami dites cara berjalan dan cara tersenyumnya. Kami pun diminta untuk memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris. FYI, para pria yang mengikuti tes ini bisa saya pastikan jauh lebih putih dan lebih ganteng daripada saya.

Saya mendapat nomor urut 92. Lumayan juga menunggu giliran. Kesempatan saya akhirnya tiba dan semuanya bisa saya libas dengan full power and self confidence!

Saya tidak memberi celah untuk tim penilai. Alhamdulillah. Meski tes sudah selesai, saya tak bisa langsung pulang karena harus menunggu semua peserta selesai tes baru bisa mengetahui hasil tes saya sebelumnya. Setelah shalat Jumat, hasilnya pun diumumkan. Sebelum pengumuman, tim penilai memberi tahu bahwa hanya ada empat puluh kandidat yang lulus ke tahap berikutnya. Oh God! Itu berarti kurang dari dua puluh persen peserta yang lulus.

~ to be continued ~

*Photos and story by: Ferza Febrian
**Edited by: Diyas Aryani and Dearmarintan

Note: Are you a cabin crew? Have inspiring or interesting stories about your job? Do share with fellow wannabes at Forum Pramugari. Send your story and photos to forumpramugari@gmail.com with email subject “Cabin Crew’s Story”. Don’t think you have a talent for writing? Just contact me via email, I’ll interview you in person and do the magic for your inspiring story. Sharing is caring🙂

Tagged: , , ,

12 thoughts on “[Part 1] Cabin Crew’s Story: Anak Penjual Nasi Uduk Jadi Pramugara

  1. Rocky February 8, 2013 at 9:38 PM Reply

    Haha ferza, one of my class mate on training, the one who mostly known as a persona w/ mild-mannered attitude and good personality.

  2. rani February 10, 2013 at 4:43 AM Reply

    wah… keren bgd ceritanya…!!!!!!!!!
    jd ikut termotivasi n semangat buat jd FA …
    B)

  3. putra February 10, 2013 at 2:40 PM Reply

    Begitu bgus cerita na..semua orang punya impian dan cita-cita…semua orang bsa ikut tes asalkan ª∂ª keberanian..btul restu orang tua restu na. اَللّهُ dan tak mudah untuk ikut interview flight attendant bgthu bnyak kriteria yang diambil..dan firza dg keyakinan dan restu sang ibu bisa lulus tes dan menjdi pramugara..
    Good luck for job flight attendant..bahagiakna orang tua mu…

    • koibito February 14, 2013 at 3:09 PM Reply

      *tetot!* mengulang kata “na”…

  4. Mayasari February 14, 2013 at 10:36 PM Reply

    Exactly. Being a flight attendant is not easy as you think. Start from ZERO to HERO. I’m feeling it. Miracle power of Allah n’ parents is REAL. No matter what your background. God reward hard work and kindness that we’ve ever done. Step by step is very difficult. But the steps that will make you remember when you
    were on the sky (Top). Do not ever raise your chin because you’re much more wow from your parents. God’s
    blessing is the blessing of the parents.

  5. harwianda February 16, 2013 at 10:30 AM Reply

    cerita memotivasi banget

  6. deanovia February 19, 2013 at 12:42 PM Reply

    ceritanya bagus🙂 ayo lanjutin min

  7. handy prince February 20, 2013 at 11:56 AM Reply

    saya juga pasti bisa…………….. amiiiiiiiiin,
    optimis >:o

  8. aprillia February 21, 2013 at 12:35 PM Reply

    jiayou

  9. andrew March 18, 2013 at 3:27 PM Reply

    cerita yang sangat bagus, karena telah bisa memberi motivasi untuk setiap pembaca, saya harap bisa membaca sampai sukses karier saudara, saya harap bisa berjumpa dengan saudara di lain kesempatan.di karenakan perjalanan saudara dengan saya tidak jauh berbeda untuk mendapat puncak karier yang di dapatkan di kala saudara berkesempatan mendarat di batam bisa menghubungi saya.
    0856654XXXX

  10. megha April 5, 2013 at 10:28 AM Reply

    cerita yagng sangat bagus dan bkin terharu..nie bisa menjadi motivasi untuk ksetiap pembaca..saya harap saya bisa bertemu saudara karna semangat yang begitu tinngi n meminta restu sama ortu..smga sya bisa kya saudara bisa mencapai puncak karier…semangat terus yach FA bhgiakan ortu anda..

  11. rahmat sukri June 25, 2013 at 10:17 AM Reply

    Very nice to this story experinces…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: